Senin, 18 Juni 2012

pertanian ayam potong


I.             PENDAHULUAN
1.1.        Latar belakang
Permintaan produk hasil peternakan khususnya daging ayam terus meningkat. Tahun 2000 misalnya, konsumsi daging ayam dunia telah mencapai 233 juta ton bahkan diperkirakan pada tahun 2020 akan meningkat menjadi 300 juta ton (FAO, 2002). Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya daya beli masyarakat dan masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk sehingga menyebabkan konsumsi per kapita maupun konsumsi secara total daging ayam terus meningkat (Kariyasa, 2003).
Menyebabkan perkembangan industri perunggasan di Indonesia kini tampak sudah maju demikian pesat, namun senantiasa dihadapkan pada berbagai kendala yang juga ikut berkembang dan semakin kompleks. Usaha ternak ayam pedaging, untuk mencapai sukses tidak saja diperlukan modal besar dan keterampilan khusus yang memadai, tetapi juga pengelolaan maupun pemasaran produksi yang handal (Murtidjo, 2006)
Fadilah (2004) menyatakan bahwa, ayam potong yang berkualitas baik antara lain mempunyai ciri kakinya besar dan basah seperti berminyak, terlihat aktif dan beratnya tidak kurang dari 37 g. Kartasudjana dan Suprijatna, (2006) menambahkan bahwa kualitas ayam potong, yang dipelihara harus yang terbaik, karena performance yang  jelek bukan saja dipengaruhi oleh faktor pemeliharaan tetapi juga oleh kualitas produksi  ayam potong pada saat dipanen.
Ayam potong memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan ayam petelur oleh karenanya pada saat ayam tumbuh, laju pertumbuhan  juga meningkat sehingga kebutuhan energi dan proteinnya juga meningkat (Suprijatna, 2005). Berdasarkan umur induknya ayam potong dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ayam potong yang berasal dari induk bibit muda dan ayam pedaging yang berasal dari induk bibit tua.
Ayam potong yang berasal dari induk bibit muda adalah ayam pedaging yang dihasilkan dari induk yang berumur 26-28 minggu, sedangkan ayam pedaging yang berasal dari induk bibit tua adalah ayam potong yang dihasilkan dari induk yang berumur lebih dari 28 minggu. Salah satu kendala ayam pedaging yang berasal dari induk bibit muda yaitu dalam pemeliharaannya dibutuhkan penanganan yang lebih intensif daripada ayam pedaging yang berasal dari induk bibit tua. Hal ini dikarenakan persentase kematian di minggu pertama pemeliharaan ayam potong induk bibit muda mencapai 3-4%, namun demikian harga pasaran ayam potong yang berasal dari induk bibit muda (ayam potong BM) 20% lebih murah daripada harga pasaran ayam potong yang berasal dari induk bibit tua. Terbatasnya produksi ayam potong oleh perusahaan pembibitan yang ada di Indonesia saat ini dan harga pasaran yang relatif lebih murah, maka ayam potong induk bibit muda (ayam potong BM) tetap merupakan sumber pasokan untuk memenuhi kebutuhan peternak ayam potong atau pedaging (Hidayat, 2008).
Ayam potong merupakan ayam yang mempunyai kemampuan hidup tinggi dan mampu mengubah pakan menjadi daging secara efisien (Adiwinarto, 2005). Komponen tubuh ayam broiler yang mempunyai nilai ekonomi adalah karkas. Karkas merupakan bagian tubuh yang sangat menentukan dalam produksi ayam pedaging. Karkas ayam pedaging adalah daging bersama tulang hasil pemotongan setelah dipisahkan dari kepala sampai batas pangkal leher, kaki sampai batas lutut serta isi rongga perut. Faktor yang mempengaruhi berat karkas ayam broiler adalah genetik, jenis kelamin, fisiologi, umur, berat tubuh dan nutrisi ransum (Murtidjo, 1994; Resnawati, 2004).
             Keunggulan ayam potong  akan terbentuk bila didukung oleh lingkungan, karena sifat genetik saja tidak menjamin keunggulan bisa segera terlihat. Hal yang bisa mendukung keunggulan dari ayam potong adalah makanan, pemeliharaan, dan temperatur lingkungan.
          Degan melihat dan memperhatikan beberapa factor yang mempengaruhi pemeliharaan untuk meningkatkan produksi ayam potong, maka penulis sagat tertarik untuk mencari tauhu, seberapa besar pengaruh yang di timbulkan dari factor-faktor yang mempengaruhi peningkatan produksi. Namun dalam hal ini penulis mencoba untuk mengungkap seberapa besar pangaruh pemeliharaan terhadap peningkatan produksi ayam potong.
1.2.    Batasan kasus situasi belajar
          Dalam studi ini di pilih usaha yang bergerak dibidang peternakan, spesipik kepada proses pemeliharaan, dalam hal ini milihat “ bagaimana pengaruh pemeliharaan ayam potong terhadap peningkatan produksi ayam potong?. Adapun pengusaha yang saya teliti adalah Pengusaha Peternak Ayam Potong pak mewa, yang berlokasi di Desa Lampuawa, Kecamatan Sukamaju, kabupaten luwu utara
a.      Sumber bahan baku yang meliputi darimana bahan baku yang di peroleh, umur berapa bahan baku tersebut dipanen dan hasil penennya di jual kemana.
b.      Proses pemeliharaan meliputi berapa lama pemeliharaan pemeliharan supaya dapat di panen
c.      Paska panen meliputi kemana hasil panen tersebut akan dijual atau dikirim.
1.3.    Sasaran belajar
         dalam sasaran belajar adalah “untuk mengetahui pengaruh pemeliharaan terhadap peningkatan produksi ayam potong” dan dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu:
a.    Aspek pengetahuan
Ø  Untuk mengetahui pola manajemen pengadaan bahan baku yang diterapkan dalam perusahaan ini.
Ø  Untuk mengetahui berapa lama, agar bahan baku tersebut dapat di panen
Ø  Untuk mengetahui tahap pemeliharaan yang di terapkan oleh perusaan ini
Ø  Untuk mengetahui masalah yang di timbulkan oleh di dalam proses mana jemen dan mengetahui alternatif dalam pemecahan masalah tersebut.
b.    Aspek keterampilan
Ø  Mampu dan terampil dalam menanganin manajemen pengadaan bahan baku yang diterapkan dalam perusahaan tersebut.
Ø  Mampu dan terampil dalam mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi pada setiap proses yang di hadapi pada setiap proses yang di terapkan.
Ø  Terampil dalam upaya dan menentukan alternatip dalam upaya pemecahan masalah.
c.    Aspek sikap
Ø  Menghargai pola manajemen yang berlaku dan telah di terapkan pihak perusaan.
Ø  Menciptakan suasana kerja yang kondusif dan menyenangkan.
Ø  Menjalin rasa persaudaraan dan kekeluargaan degan manajemen dan para karyawan.
Ø  Dapat memetik manfaat dari pengalaman belajar atas kasus yang sedang dikaji.
1.4.    Metode aktifitas belajar
1.4.1. Pemilihan dan pendekatan kasus
          Pemilihan kasus dalam penelitian ini di lakukan secara purposive yaitu memilih secara langsung objek atau sampel yang akan di teliti degan pertimbagan bahwa populasi yang dijadikan sampel sagat terbatas. Alasan lain memilih Pengusaha Peternak Ayam Potong sebagai sampel karna lokasinya yang sangat strategis dan mudah di jangkau, selain itu pengadaan bahan baku akan selalu dilakukan dan bias mendukung kegiatan yang akan peneliti lakukan.mengigat jumblah bahan baku yang dibutuhkan dalam penelitian ini cukup besar untuk sampai pada tahap akhir pengumpulan data.
          Pendekatan kasus dilakukan degan cara wawancara, observasi.
1.4.2.   Lokasi dan tempat
          Tempat penelitian ini berlokasi di Pengusaha Peternak Ayam Potong yang beralamat di Desa Lampuawa, Kecamatan Lampuawa, Kabupaten Luwu Utara degan pertimbagan bahwa lokasinya yang strategis dan mudah di jangkau. Kegiatan penelitian ini akan dilaksanaan kurang lebih selama Dua Kali yang rencana akan di mulai pada tanggal 29-30 mei Tahun 2012
Metode penelitian
          Untuk mencapai sasaran yang akan diiginkan, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampila dan aspek sikap maka di gunakan metode APPAS ( analisis persoalan dan pengembangan agrosistem ) degan tahap sebagai berikut:
Ø   Untuk mencapai aspek pengetahuan, digunakan metode studi kasus yang diharapkan akan mengungkapkan akan mengungkapkan situasi kasus yang menjadi pokus kajian. Untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan dalam kasus ini digunakan metode observasi, wawancara.
Ø   Mencapai aspek keterampilan, digunakan metode wawancara yaitu dengan menanya langsung dalam perusahan.
Ø  Untuk mencapai aspek sikap, diharapkan akan muncul pada tahapan problematisasi dan intraksi terhadap kasus.
9 Langkah APPAS





II.           TINJAUAN PUSTAKA
2.1.   Mengenal ayam potong
Ayam potong (Broiler) adalah ayam ras yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat (5-7 minggu). Broiler mempunyai peranan yang penting sebagai sumber protein hewani. Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Sebenarnya ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegang kekuasaan mencanangkan panggalakan konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Hanya 5-6 minggu sudah bisa dipanen. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia.
2.2.      Pemilihan Bibit
Bibit yang baik mempunyai ciri : sehat dan aktif bergerak, tubuh gemuk (bentuk tubuh bulat), bulu bersih dan kelihatan mengkilat, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta lubang kotoran (anus) bersih.

2.3.      Kondisi Teknis yang Ideal
2.3.1.  Lokasi kandang
Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk, mudah dicapai sarana transportasi, terdapat sumber air, arahnya membujur dari timur ke barat.
2.3.2.  Pergantian udara dalam kandang.
Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik.
2.3.3.  Suhu udara dalam kandang.
Tabel 2.1. Suhu ideal kandang sesuai umur adalah :
Umur (hari)
Suhu ( 0C )
01 – 07
34 – 32
08 – 14
29 – 27
15 – 21
26 – 25
21 – 28
24 – 23
29 – 35
23 – 21



2.3.4.  Kemudahan mendapatkan sarana produksi
Lokasi kandang sebaiknya dekat dengan poultry shop atau toko sarana peternakan.
2.4.      Tata Laksana Pemeliharaan
2.4.1.  Perkembangan
Tipe kandang ayam Broiler ada dua, yaitu bentuk panggung dan tanpa panggung (litter). Tipe panggung lantai kandang lebih bersih karena kotoran langsung jatuh ke tanah, tidak memerlukan alas kandang sehingga pengelolaan lebih efisien, tetapi biaya pembuatan kandang lebih besar. Tipe litter lebih banyak dipakai peternak, karena lebih mudah dibuat dan lebih murah.
Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk menjaga kehangatan, sehingga energi yang diperoleh dari pakan seluruhnya untuk pertumbuhan, bukan untuk produksi panas tubuh. Kepadatan kandang yang ideal untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah 8-10 ekor/m2, lebih dari angka tersebut, suhu kandang cepat meningkat terutama siang hari pada umur dewasa yang menyebabkan konsumsi pakan menurun, ayam cenderung banyak minum, stress, pertumbuhan terhambat dan mudah terserang penyakit.
2.4.2.  Pakan
ü  Pakan merupakan 70% biaya pemeliharaan. Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari (Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu tersedia/tidak dibatasi).
ü  Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%. Tahap kedua disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya. -Penambahan POC NASA lewat air minum dengan dosis 1 - 2 cc/liter air minum memberikan berbagai nutrisi pakan dalam jumlah cukup untuk membantu pertumbuhan dan penggemukan ayam broiler.
ü  Dapat juga digunakan VITERNA Plus sebagai suplemen khusus ternak dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari, yang mempunyai kandungan nutrisi lebih banyak dan lengkap.
ü  Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio). Cara menghitungnya adalah, jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen.
Contoh perhitungan :
Diketahui ayam yang dipanen 1000 ekor, berat rata-rata 2 kg, berat pakan selama pemeliharaan 3125 kg, maka FCR-nya adalah :
Berat total ayam hasil panen =1000 x 2 = 2000 kg
FCR = 3125 : 2000 = 1,6
Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena lebih efisien (dengan pakan sedikit menghasilkan bobot badan yang tinggi). Penggunaan POC NASA atau VITERNA Plus dapat menurunkan angka FCR tersebut.


2.4.3.  Vaksinasi
Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami. Vaksinasi penting yaitu vaksinasi ND/tetelo. Dilaksanakan pada umur 4 hari dengan metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan pada umur 21 hari dengan vaksin ND Lasotta melalui suntikan atau air minum.
2.4.4.  Teknis Pemeliharaan
ü  Minggu Pertama (hari ke-1-7). Kutuk/DOC dipindahkan ke indukan atau pemanas, segera diberi air minum hangat yang ditambah POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari dan gula untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi. Pakan dapat diberikan dengan kebutuhan per ekor 13 gr atau 1,3 kg untuk 100 ekor ayam. Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal, pada prakteknya pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan berbentuk butiran-butiran kecil (crumbles).
ü  Mulai hari ke-2 hingga ayam dipanen air minum sudah berupa air dingin dengan penambahan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari (diberikan saat pemberian air minum yang pertama). Vaksinasi yang pertama dilaksanakan pada hari ke-4.
ü  Minggu Kedua (hari ke 8 -14). Pemeliharaan minggu kedua masih memerlukan pengawasan seperti minggu pertama, meskipun lebih ringan. Pemanas sudah bisa dikurangi suhunya. Kebutuhan pakan untuk minggu kedua adalah 33 gr per ekor atau 3,3 kg untuk 100 ekor ayam.
ü  Minggu Ketiga (hari ke 15-21). Pemanas sudah dapat dimatikan terutama pada siang hari yang terik. Kebutuhan pakan adalah 48 gr per ekor atau 4,8 kg untuk 100 ekor. Pada akhir minggu (umur 21 hari) dilakukan vaksinasi yang kedua menggunakan vaksin ND strain Lasotta melalui suntikan atau air minum. Jika menggunakan air minum, sebaiknya ayam tidak diberi air minum untuk beberapa saat lebih dahulu, agar ayam benar-benar merasa haus sehingga akan meminum air mengandung vaksin sebanyak-banyaknya. Perlakuan vaksin tersebut juga tetap ditambah POC NASA atau VITERNA Plus dengan dosis tetap.
ü  Minggu Keempat (hari ke 22-28). Pemanas sudah tidak diperlukan lagi pada siang hari karena bulu ayam sudah lebat. Pada umur 28 hari, dilakukan sampling berat badan untuk mengontrol tingkat pertumbuhan ayam. Pertumbuhan yang normal mempunyai berat badan minimal 1,25 kg. Kebutuhan pakan adalah 65 gr per ekor atau 6,5 kg untuk 100 ekor ayam. Kontrol terhadap ayam juga harus ditingkatkan karena pada umur ini ayam mulai rentan terhadap penyakit.
ü  Minggu Kelima (hari ke 29-35). Pada minggu ini, yang perlu diperhatikan adalah tatalaksana lantai kandang. Karena jumlah kotoran yang dikeluarkan sudah tinggi, perlu dilakukan pengadukan dan penambahan alas lantai untuk menjaga lantai tetap kering. Kebutuhan pakan adalah 88 gr per ekor atau 8,8 kg untuk 100 ekor ayam. Pada umur 35 hari juga dilakukan sampling penimbangan ayam. Bobot badan dengan pertumbuhan baik mencapai 1,8 - 2 kg. Dengan bobot tersebut, ayam sudah dapat dipanen.
ü  Minggu Keenam (hari ke-36-42). Jika ingin diperpanjang untuk mendapatkan bobot yang lebih tinggi, maka kontrol terhadap ayam dan lantai kandang tetap harus dilakukan. Pada umur ini dengan pertumbuhan yang baik, ayam sudah mencapai bobot 2,25 kg.
2.4.5. Penyakit
Penyakit yang sering menyerang ayam broiler yaitu :
ü  Tetelo (Newcastle Disease/ND) Disebabkan virus Paramyxo yang bersifat menggumpalkan sel darah. Gejalanya ayam sering megap-megap, nafsu makan turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat. Setelah 1 - 2 hari muncul gejala syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan ayam berputar-putar yang akhirnya mati. Ayam yang terserang secepatnya dipisah, karena mudah menularkan kepada ayam lain melalui kotoran dan pernafasan. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk mengurangi kematian, ayam yang masih sehat divaksin ulang dan dijaga agar lantai kandang tetap kering.
ü  Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD) Merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan Reovirus. Gejala diawali dengan hilangnya nafsu makan, ayam suka bergerak tidak teratur, peradangan disekitar dubur, diare dan tubuh bergetar-getar. Sering menyerang pada umur 36 minggu. Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air minum dan peralatan yang tercemar. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, yang dapat dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin Gumboro.
ü  Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory Disease). Merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum Gejala yang nampak adalah ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare dengan kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan melalui pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat. Pengobatan dapat dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai.
ü  Berak Kapur (Pullorum). Disebut penyakit berak kapur karena gejala yang mudah terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum. Kematian dapat terjadi pada hari ke-4 setelah infeksi. Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat memberikan hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan dengan perbaikan sanitasi kandang. Infeksi bibit penyakit mudah menimbulkan penyakit, jika ayam dalam keadaan lemah atau stres. Kedua hal tersebut banyak disebabkan oleh kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca yang jelek. Cuaca yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang terlalu panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara drastis. Penyakit, terutama yang disebabkan oleh virus sukar untuk disembuhkan. Untuk itu harus dilakukan sanitasi secara rutin dan ventilasi kandang yang baik. Pemberian POC NASA yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan ayam, ketahanan tubuh ayam, mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran. Untuk hasil lebih optimal, pemberian POC NASA dapat dicampur dengan Hormonik dosis 1 botol POC NASA dicampur dengan 1-2 tutup botol Hormonik, atau 1 botol POC NASA dicampur dengan 2-4 kapsul Asam Amino. Dapat juga menggunakan VITERNA Plus yang merupakan suplemen khusus ternak dengan kandungan :
a.  Mineral-mineral yang penting untuk pertumbuhan tulang, organ luar dan dalam, pembentukan darah dan lain-lain.
b.  Asam-asam amino utama seperti Arginin, Histidin, Isoleucine, Lycine, Methionine , Phenylalanine, Threonine, Thryptophan, dan Valine sebagai penyusun protein untuk pembentukan sel, jaringan, dan organ tubuh
c.  Vitamin-vitamin lengkap, yaitu A, D, E, K, C dan B Komplek untuk kesehatan dan ketahanan tubuh.

2.4.6.   Sanitasi/Cuci Hama Kandang
            Sanitasi kandang harus dilakukan setelah panen. Dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu pencucian kandang dengan air hingga bersih dari kotoran limbah budidaya sebelumnya. Tahap kedua yaitu pengapuran di dinding dan lantai kandang. Untuk sanitasi yang sempurna selanjutnya dilakukan penyemprotan dengan formalin, untuk membunuh bibit penyakit. Setelah itu dibiarkan minimal selama 10 hari sebelum budidaya lagi untuk memutus siklus hidup virus dan bakteri, yang tidak mati oleh perlakuan sebelumnya.
2.5.      analisis ekonomi ayam potong
2.5.1. Analisis Usaha ayam potong
Dasar perhitungan biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh dalam analisis ini, antara lain adalah:
ü  Jenis ayam yang dipelihara adalah jenis ayam ras pedaging (broiler) dari strain CP.707.
ü  Sistem pemeliharaan yang diterapkan dengan cara intensif pada kandang model postal
ü  Luas tanah yang digunakan yaitu 200 m2 dengan nilai harga sewa tanah dalam 1 ha/tahun adalah Rp 1.000.000,-.
ü  Kandang terbuat dari kerangka bambu, lantai tanah, dinding terbuat dari bilah-bilah bambu denga alas dinding setinggi 30 cm, terbuat dari batu bata yang plester dan atap menggunakan genting.
ü  Ukuran kandang, yaitu tinggi bagian tepinya 2,5 m, lebar kandang 5 m dan lebar bagian tepi kandang 1,5 m.
ü  Lokasi peternakan dekat dengan sumber air dan listrik.
ü  Menggunakan alat pemanas (brooder) gasolec dengan bahan bakar gas.
ü  Enerangan dengan lampu listrik.
ü  Umur ayam yaitu dimulai dari bibit yang berumur 1 hari
ü  Litter/alas kandang menggunakan sekam padi.
ü  Jenis pakan yang diberikan adalah BR-1 untuk anak ayam umur 0-4 minggu dan BR-2 untuk umur 4-6 minggu.
ü  Tingkat kematian ayam diasumsikan 6%.
ü  Lama masa pemeliharaan yaitu 6 minggu (42 hari).
ü  Berat rata-rata per ekor ayam diasumsikan 1,75 kg berat hidup pada saat panen.
ü  Arga ayam per kg berat hidup, yaitu diasumsikan Rp 2500,-, walau kisaran harga sampai mencapai Rp 3000,- ditingkat peternak/petani.
ü  Ayam dijual pada umur 6 mingu atau 42 hari.
ü  Nilai pupuk kandang yaitu Rp 60.000,-.
ü  Bunga Bank yaitu 1,5%/bulan
ü  Nilai penyusutan kandang diperhitungkan dengan kekuatan masa pakai 6 tahun dan nilai penyusutan peralatan diperhitungkan dengan masa pakai 5 tahun.
ü  Perhitungan analisis biaya ini hanya diperhitungkan sebagai Pedoman dasar, karena nilai/harga sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar